Selasa, 26 April 2011

Ruhut Sitompul Tergantung di Jurang?

Kompas.com - Anggota DPR RI Ruhut Sitompul mengakui dirinya dan sejumlah pengikutnya tergantung di tembok jurang ketika melakukan duel dengan sekelompok orang. Dia mengaku tak takut dan gentar hingga usai. Baginya, keberanian itu sangat membanggakan. Ini cuma salah satu adegan laga Ruhut dalam film layar lebar terbarunya yang berjudul Sajadah Ka'bah. Film yang disutradarai oleh penyanyi dangdut legendaris, Rhoma Irama, ini akan rilis menjelang Ramadhan pada akhir Juli atau awal Agustus ini.

Politisi Demokrat ini mengatakan dirinya memerankan tokoh Towi, seorang penjahat dan mafia kampung. Peran antagonis ini membuatnya kerap melakukan duel dengan pasukan Rhoma Irama yang juga turut bermain dalam film ini.

"Itu film religius tapi 50 persennya 'fighting'. Aku berantem lagi sama dia (Rhoma). Oh, ada adegan enggak pake stuntman (pemain pengganti). Kalian lihat nanti gua tergantung di jurang. Mantep lho. Dia (Rhoma) sudah siapin stuntman. Tapi gua bilang enggak. Dia takut juga kalau gua mati 'kan. Dia sudah siapkan stuntman. Tapi enggak jadi. Kita sama-sama tergantung, gua jadi salut tuh sama Pak Haji. Dia juga ikut tergantung," katanya di Gedung DPR RI, Kamis lalu.

Ruhut pun tampak geli ketika menceritakan bahwa tokoh Towi yang diperankannya justru tewas di akhir cerita. Seorang penjahat yang biasanya jadi mafia dan calo tanah hebat akhirnya berujung pada kematian. Menurutnya pula, selain mengadopsi nafas religius dan laga, film ini juga penuh romantika antara putra Rhoma yang diperankan langsung oleh putranya sendiri, Ridho Rhoma dan putri Ruhut dalam film tersebut, yaitu Michelle.

Tak pelak, ada adegan bernyanyi dan menari khas Rhoma dan Ridho. Pria kelahiran 24 Maret 1954 ini pun menyadari bahwa dirinya memang selalu mengambil peran antagonis dalam berbagai film dan sinetron. Menurutnya, peran itulah yang memang cocok untuknya di layar kaca. "Semua peran gua kan antagonis. Gua kan enggak ganteng, gimana ambil peran orang baik. 'Kan kalau ganteng-ganteng itu baru orang baik, kalau gua oh ya enggak jelas. Mata gua di film itu satu, ditutupin kayak bajak laut," tambahnya.

Ruhut yang anggota Komisi III DPR RI ini pun menegaskan, tak ada yang salah jika anggota Dewan seperti dirinya tetap menjalankan profesi sebagai aktor. Apalagi, mereka berasal dari latar belakang dunia perfilman dan dunia hiburan pula. Asal bisa membagi waktu. Syuting Sajadah Ka'bah, misalnya. Menurut Ruhut, syuting dilakukan pada saat masa reses atau masa perhentian sidang parlemen lalu. Syuting yang dilakukan di Lombok, Nusa Tenggara Barat ini menghabiskan waktu selama 10 hari saja. Jadi, pengaturan waktu tergantung anggota sendiri.

"Aku di lombok itu pas lagi reses yang kemarin dan momennya pas. Aku syuting film itu. Nah, aku ini kan jubir partai dan kadang-kadang harus ngomong ya. Nasib gua baik. Pak SBY ke India dan Swiss, perjalanan sekitar 10 hari. Dia balik, gua juga 'kan sudah selesai. Setelah itu, baru Rhoma Irama pemasaran, mulai ngomong-ngomong, ketahuan LSM. Diadukan ke Ketua DPR Marzuki Alie, Ketua Fraksi Demokrat, Jafar Hafsah. Mereka minta jangan diizinkan. Haaa, udah selesai. Gua bilang, telmi lo pada," katanya sambil tertawa.

Selain itu, mantan pemeran tokoh Poltak dalam serial Gerhana ini mengakui bahwa honor bermain film lebih besar daripada gaji bulanannya sebagai anggota Dewan. Selain itu, main film bisa menjadi alat yang efektif bagi para politisi dari kalangan artis untuk mempromosikan diri sebelum maju dalam sebuah Pemilihan Kepala Daerah.

"Paling tidak untuk modal 2014. Kalau Haji Komar, kenapa gua ajak, dia 'kan nyalon Bupati Cirebon 2013. Di situ kan Muslim-nya 95 persen. Paling enggak dapatlah berapa, menang itu nanti. Kebetulan juga Haji Komar di Cirebon terkenal. Dia itu 'kan setiap Kamis, Jumat dan Sabtu selalu di Cirebon, ngajar dan sebagainya," tandasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cna certification